Balada mengikhlaskamu,, kamu iya kamu,,,#1

Bismillahirrohmanirrohim,, hai hai,,,kisah yang mau aku bagi kali ini mungkin agak sedikit beda yakkk.. hehehe… karena ada bagian-bagiannya gitu. Setiap bagian dari tulisan ini merupakan rangkaian pengalaman sekaligus suatu upaya rekam jejak impian yang sedang berusaha diwujudkan…Mulai aja yakk

Ciee yang awalnya biasa aja kemudian jadi deg-degan luar biasa (pas hari-H)…Alhamdulillah tidak pernah menyangkan atas izin Allah sebuah saran yang sempat disampaikan oleh dosenku untuk menyelesaikan studi selama 2,5 tahun terlaksana yang lebih membahagiakan lagi kami lulus sama-sama ( udah bisa ketebak kali yahh ini bahas apa,,heheh). Benar sekali tepat Februari ini aku menyelesaikan studi diplomaku di Universitas tercinta,,, ada rasa bahagia, haru dan sedihh,,,

Paragraf ketiga ini tepat saya tulis di bulan ketiga pasca wisuda dan menjelang hari ke 10 Ramdahan, subhanallah begitu tidak terasa, dan Iyah teman2 kali ini saya mau share pengalaman saya (tepatnya kisah balada # 1 saya, heheheh). Setelah merasakan apa itu kelulusan maka awal pertama perasaan adalah sebuah kebahagiaan, dan terkadang inilah yang sering membuat diri melupakan(khususnya saya) bahwa ini baru babak permulaan. Sebenarnya saya sudah menuliskan rencana apa yang akan saya lakukan pasca kelulusan, namun rencana manusia yah sedikitnya pasti ada kecacatan dan hanya Dialah yang Maha menyempurnakan. Teman2 pasca lulus saya sempat ikut sebuah tes perusahaan yang cukup terkemuka. Alhamdulillah saya lulus sampai tinggal satu tahap akhir saya bisa diterima di perusahaan tersebut, yah dan qodarulloh pada tahap inilah saya gagal, Pertanyaannya apakah saya merasakan sesak, nyatanya tidak( untuk beberapa hari saya merasakan baik-baik saja :”)), mungkin karena pada saat itu saya merasa ada keraguan dalam diri saya bahwa bekerja bukan pilihan yang tepat karena saya ingin sekolah. Satu bulan atau dua bulan berlalu saya mulai menyadari mungkin ada yang salah, iyah sebenarnya dalam jangka waktu tersebut saya juga Alhamdulillah melakukan hal yang bermanfaat in syaa Allah. Tapi tetap saja ada pemikiran yang pada akhirnya membuat risau hati saya. Saya sempat berpikir, saya telah melewatkan kesempatan yang berharga yaitu kenapa saya tidak maksimalkan saat itu sehingga saya bisa diterima di perusahaan tersebut dan mulai bisa mengumpulkan uang untuk berkuliah, jujur teman2 saya berat karena harapan seorang anak salah satunya adalah meringankan beban orang tua salah satunya mungkin dengan membayar sebagian biaya kuliah, beberapa hari saya terus memikirkan itu sampai saya merasa sakit kepala dibuatnya. Astagfirullah. Oh iyah teman saat itu kondisinya saya sebenernya masih 6 bulan lagi sampai benar2 aktif kuliah dan itu waktu yang cukup untuk 1 periode kerja pada saat itu.

Sampai pada akhirnya saya menyadari tak akan ada yang berubah, saya juga sempat bertanya pada seorang kating ” Teh kalau teteh gman ? ada gak sih perasaan kayak berat gitu, kan kita sebenernya udah bisa gitu kerja tapi malah memutuskan untuk bersekolah bahkan masih dengan uang orang tua” dan jawaban tetehnya adalah ” Ada pasti perasaan seperti itu ada, tapi sekarang yang penting orang tua ridho itu saja sudah lebih dari cukup, dan in syaa Allah perjuangan yang kita lakukan juga in syaa Allah selama dilakukan dengan sebaikk mungkin akan berbuah hasil yang lebih manis” kurang lebih itu nasihat yang teteh berikan kepada saya, sedikit banyak membawa angin segar bagi saya. Oh iyah kondisi tetehnya memang agak berbeda karena tetehnya itu ambil fasttrack S2 sementara saya ekstensi S1. Satu hal lagi yang meringakan pemikiran saya adalah sebuah nasihat dari teman sholehah saya in syaa Allah bahwa dia mengatakan” Neng sebenarnya kan seorang perempuan itu tidak diwajibkan untuk menafkahi dirinya, dan selama dia belum menikah maka segala keperluanya masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya”. Ya itulah sekelumit pemikiran berat saya dan cara meringankannya. Oh iyah temen2, saya tidak bermaksud menjadikan kisah ini menjadi pembenaran teman2 untuk terus berpangku tangan justru saya mengharapkan adanya sebuah perbaikan dari cerita ini saya harap teman2 merencanakan lebih matang tentang apapun yang akan teman- teman lakukan, dan bagi yang sudah merasa terlambat ini mungkin sedikit oase untuk memulai sesuatu yang baru karena tidak baik juga kan jika terus berada dalam penyesalan, sampai saat ini sayapun masih berusaha, bahkan saya sungguh sangat mengapresiasi teman2 yang sedang berjuang dengan gigih bahwa saya harus mandiri, dan sampai mungkin mengorbankan hal yang penting juga . Barakallah, dan ya saya sangat welcome tentang saran dari teman2 bagi saya.

Lanjut…Saya memutuskan untuk pulang dulu kerumah, Hah rumah? emang selama ini tinggal dimana, mungkin ini pertanyaan teman kepada saya. saya anak kost tinggal diperantuan dan ini jugalah salah satu hal yang memberatkan pikiran saya ” udah lulus gak kerja pula tapi masih merantau”. Nah kepulangan saya kali ini tidak lain untuk meluruskan dan mendiskusikan semuanya dengan kedua orang tua saya dikampung. Temen2 mungkin akan banyak pertanyaan di dalam pikirannya (tapi saya punya alasan ya alasan yang saya akan ceritakan nanti). Bukan hal yang mudah sebelum pulang, saya menulis semua hal yang akan saya katakan bahkan sampai tak terasa tetesan itu jatuh membasahi tulisan. Iyah saya menulis itu sambil menangis, karena disatu sisi saya merasa ini rencana saya, satu sisi ya Allah saya merasa rencana saya akan menjadi beban bagi kedua orang tua saya. Saya sampai dirumah, hari pertama saya belum berani memulai diskusi karena merasa momennya belum tepat, hingga akhirnya malam terakhir di rumah saya memutuskan mulai pembicaraan. Kiranya kata pertama sampai kelima saya masih bisa menyampaikan namun pada akhirnya saya hanya bisa menyampaikan dengan sesenggukan, saya menyampaikan kurang lebih begini” Bu Pak neng minta maaf belum bisa kasih sesuatu untuk ngebahagian bapak sama ibu padahal mungkin neng bisa waktu itu tapi neng belum bisa, dan sekarang pun neng malah memohon untuk bersekolah lagi (saya sempet bicara via telpon dlu sebenernya tentang masalah lanjut kuliah ini dan ada lampu hijau), bahkan selama ini neng tinggal di Bandung mungkin cuma ngehabisin uang bapak sama ibu.” Ya itulah kalimat pertama yang saya sampaikan yang kemudian saya lanjutkan dengan menyatakan pernyataan bahwa saya meminta pendapat yg sebenarnya dari kedua orangtua saya apa yang mereka harapkan dari anaknya ini, apakah memang meridhoi berkuliah lagi dengan kenyataan akan kembali membiaya biaya kuliah saya atau menyarankan saya kerja saja dulu. Masya Allah, orang tua itu memang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya dan jawaban mereka dengan airmata yang juga menetes dari pipinya” Neng bapak sareng emah mah ridho eneng bade sakola deui oge in syaa Allah rezeki mah Allah yang ngatur jalan-Nya bisa dari mana saja, eneng gk usah mikiran biaya apalagi sampai berpikir habisin uang orang tua, jangan ada pikiran seperti itu, karena justru pikiran itu yang akan membuat ibu sama bapak khawatir.

03 -08-2020 – Begitulah cerita yg kutulis 2 tahun lalu namun belum aku publish, dan tersimpan aman di draft. Sungguh banyak kisah yg terjadi setelahnya, sebuah keajaiban aku menyebutnya, tentang hakikat rezeki dan karunia yg tidak terbatas hanya pada materi semata, semoga bisa di share secara bertahap dan semoga ada hikmah yg bisa diambil didalmnya.. aamiin..bismillah..

Hanya padaKu

Hanya padaKu #1
Kemrin pagi H-1, hari yg hrusnya mulai beristirahat untuk persiapan besok dan mematangkan materi, Alhamdulillah malah Allah beri kesempatan untuk test biofarma, agak kaget karena testnya dihari itu jga, dan kyk blum nyiapin apa2 :”)).. tpi sgala sesuatu sejatinya Allah yg mampukan, bismillah aku tenangkan diri untuk test tersebut karena in syaa Allah testnya jga hanya satu jam..

Bismillah pukul 18.00 aku mulai test, ternyata testnya sejenis test koran, subhanallah tangaku dibuat kram selama test,, dan teman2 tahu kah? Saat moment sudah tertulis “Selesai, sedang menyimpan jangan keluar dari halaman ini” koneksi qodarullah terputus :”)).. panik? Cukup panik..ini testku kesave apa nggk ini aku hrus ngulang lgi apa nggk.. kalau ngulang jariku masih bergetar( selama satu jam atuh harus digerakan mengetik penjumlahan)..ya Allah ingin nangis rasanya..waktunya tinggal dikit lgi untuk bisa ngulang,

Alhamdulillahnya aku nggk sendirian selain ada Allah tentu..ada orang2 baik disekitarku anisah dan chubun maksih udah nenangin udah telponin kaka tingkat kira2 ini kenapa. gap ini skligus jdi wktu merenung..kenapa? Ini kenapa? Ternyata memang adanya ketidakmurnian niat adanya pengharapan yg terlalu besar selain pada-Nya.. padahal setiap rizki dalam hal ini pekerjaan, murni hak preogratif-Nya untuk memberikan, hanya ikhtiar yg bisa kita maksimalkan,

maka lintasan kalimat “HANYA PADAKU (Allah) seharunya kmu berharap” seolah ingin Allah tegaskan padaku, jleb bener2 deh,, itu kyk ya Allah aku memang salah, harapan terlalu besar agar bisa bekerja disana krena ingin bahagiain orangtua nampaknya Engkau cemburui, seharusnya niatkan semuanya ibadah murni tulus, termasuk bekerja dan bahagiain orangtua,,😭😭😭.. baik after that bismillah ngulang lgi testnya dengan tangan yg masih kaku rasanya, memaang pada akhirnya lebih dri batas waktu, Alhamdulillah ala kullihal..mhon do’akan yg terbaik temen2🙏..



Hanya padaKu #2
Hari-H
Persiapan sudah dimaksimalkan, kendala laptop yg kameranya nggk bisa dinyalakan diatasi dengan meminjam teman, qodarulloh pas lgi simulasi layarnya jdi black screen nggk bisa nyala ya Allah ini udah J-3,, kucoba selalu tenangkan hati, bismillah in syaa Allah ada jalan, lalu lgi2 dibantu partner TA ku chubski, cba telpon teman2 untuk minta bantuan.. Alhamdulillah ada yg mau bantu, udah senengkan. tenang gtu,,, qodarullah pas sampai kesana laptopnya masih dipakai dan mungkin sampai nanti( dan ya iya atuh kan mau presentasi jga temen aku teh, kamu ini mah yg ngeriweuhin neng)

ya Allah jleb lgi, aku yg terlalu senang, hingga Allah tegaskan lgi “Hanya padaKu”, mulai kulurusin lgi hatiku dstu.. Alhamdulillah pertolongan datang dri temanku yg blm bsa meminjamkan laptop itu dengan menawarkan laptop temannya yg lain…Alhamdulillah.. dstu aku jga mulai tenang lgi,, tpi seolah Allah ingin memastikan aku benar2 bergantung dengan-Nya apa ndak mka diberilah something special lgi, laptopnya blum ada zoom, beberpa kalai error buat download Menit-30 ndak bsa sharescreen..ya Allah lengkap sudah,, aku benar2 nggk ada daya upaya lemah, klu bukan Allah yg mampukan ..bener2 dibuat hrus total bergantung sama Allah..

Alhamdulillah..aku yg saat itu jga bawa laptop akhirnya menggunakan 2 laptop untuk presentasi.. bukan hal yg mudah tpi dstu aku bener2 cma bisa pasrah banyakin sholawat, bismillah..iyah banyakin sholawat itu benar2 ikhtiar yg membawa ketenangan tpi bukan ketenangan yg semu sprti diatas krena berharap keselain-Nya..benar2 ketenangan yg kayak rsanua pasrah skli..cm bisa berbisik dalam hati

“ya Allah ini neneng sdah maksimalkan ikhtiarnya semaksimal neneng, semoga lancar ya Allah engkau pulalah penggenggam hati setiap makhluk lembutkanlah hati penguji pembimbing agar bisa memberikan ilmu yg bermanfaat yg bisa neneng pahami dan amalkan” ..

Alhamdulillah masya Allah bener2 gk bsa nahan hru pas udah selesai, semuanya lancar tanya jawab juga lancar, bener2 speechless ini aku teh beneran bisa selesai seminar hasilnya,, biidznillah semua karena Allah.. benar2 hanya Allah yg mampukan😭😭😭…

bismillah ya Allah masih ada satu step lagi semoga ini jadi awal untuk total bergantung sama Allah dlam ikhtiar mengamalkan ilmu..dan ” Hanya padaKu” itulah yg Allah selalu ingikan dari makhluknya😭😭😭… bismillah semoga bisa memaksimalkan kesempatan selanjutnya denga senantiasa meluruskan niat..

Berganti

Tak bisa
Tak bisa menahan sesuatu tetap dekat
Pun tak bisa mencegah kedatangan yg tintanya sdah tertulis rekat..
Karna hati sempurna milik-Nya

Karena setiap takdir atas kehendak-Nya

Sudah cukup banyak

Sungguh niat hati ingin melupakan

Tapi Ia seolah mengirim banyak hal untuk mengingatkan

Barangkali kata melupakan ini memang tidak tepat

Baiklah ku pilih saja kata mempersiapkan

Sebuah pembelajaran,

Hikmah yang harus diambil dengan kepekaan rasa

Do’akan semoga aku baik-baik saja

Assalamu’alaikum baby girl yang sholehah in syaa Allah…

Ada pesan dari masa depan… ucapan syukur dan terima kasih

Alhamdulillah,, terima kasih sudah bertahan sampai saat ini, bayi kecil yg dulu sering sakit-sakitan kini bisa mencapai usia kepala dua

Alhamdulillah,, terima kasih karena masih berjuang sampai saat ini, semoga perjuangannya bermuara ketempat peristirahatan terbaik yaitu syurga Allah subhanahu wa ta’ala

Alhamdulillah,, untuk semua masa, semua peristiwa, yg dihiasi canda tawa ataupun sedih dan duka. Semua menjadi bahan pembelajaran karena pengalaman sejatinya adalah kawan sekaligus guru terbaik sepanjang zaman

Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa luruskan niatmu, membersmai setiap ikhtiarmu, dan mencurahkan rahmatnya kepadamu..

Bersyukur yg tiada terukur, Semoga rezeki umur yg Allah berikan padamu saat ini menjadi bekal terbaik meraih pahala untuk ke syurga

Aamiin Allahumma Aamiin

Sukabumi, 19 Mei 2020 / 26 Ramadhan 1441 H

Makna #1

Tertolak,tergantung, adalah bagian dari sebuah perjalanan.
Betapa bahagianya ketika saat itu tertolong… Tentu…
Dan itu dapat terjadi pada masa dimana diri sudah merasa sedemikian sesak dan terdesak..
Kenapa
Karena
Masa itu…
Setiap desir do’a dalam hatimu ikhlas karena-Nya..
Setiap khusyu sujudmu, fokus hanya mengharap ridho-Nya..
Dan setiap langkahmu adalah ikhtiar perjalanan yg bisa menambah iman…
Masa itu..
Tak ada lagi harapan
Tak ada lagi penantian
Kepada makhluk-Nya
karena sejatinya dia lemah
Masa itu…
Dia mungkin hanya ingin menyaksikan hambanya yg hanya kepada-Nya menyandarkan harapan
Hingga dengan ikhlas seorang hamba itu mengucapkan di masa2 penuh ketidakpastian…
“Jika ini baik untuk hamba maka mudahhkan, jika tidak sabarkan dan lapangkan ya Allah”

Sejatinya hanya Dia-lah satu2nya, pemberiajawaban dari semua ketidakpastian, maka jangan pernah putus harapan…

وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

“….Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku” (Q.S Maryam : 4)

Telur

Bismillah….sudah lama sekali ya, apa kabar kamu, iya kamu, yg sedang membaca tulisan ini, semoga senantiasa dalam lindungan Alloh🤲

Mau cerita Seninku di akhir Maret

Pagi itu aku mulai aktivitas #WFH ku sperti biasa, senjataku pagi2 adalah seperangkat alat kebersihan, wkwk..

Pagi itu aku tidak ada jadwal memasak karena kemarin lupa buat beli sayur mentah, jadi akhirnya beli makanan dri bibi. 2 Butir telur rendang dan beberapa gorengan sudah ada dalam genggaman. Ucapku dalam hati “setelah beberes baru makan telur rendang”

Kunikmati aktivitasku yg cukup lama tidak bisa kulakukan sebagai anak rantau. Hingga ibuku memanggil ” Neng telur yg tadi dimana, bapak mau makan dlu katanya”

Oh iyah, Segera aku beranjak ke sumber suara untuk mengambilkan sebutir telur itu. Ketika kubuka lemari kaca itu, kudapati telur itu hanya tinggal sebutir lagi, “Ekh kok tinggal satu, satu lagi mana?” Ucapku dengan nada tak terlalu keras.

Ternyata oh ternyata telur itu dimakan adekku, huft tinggal satu telur lagi, telur yg aku dambakan #maaf agak lebay😅. Telur yg saat itu harus kuikhlaskan. Iyah kuberikan telur itu pada ayah, meskipun aku sangat menginginkannya. Yang terbersit saat itu, bagaimana dulu  orangtua ikhlas melakukan hal yg sama untukku, mendahulukan anaknya makan meski rasa lapar sudah sangat dirasakan agar anak2nya tetap terpenuhi  kebutuhan gizi.

Entah saat itu aku benar2 merasakan keikhlasan itu, akhirnya aku serahkan sebutir telur itu pada ayah. Masya Allah benarlah Allah akan membalas suatu kebaikan dengan berlipat kebaikan lain saat jalan yg dilakukan sesuai dengan  yang Allah kehendakan.

Percaya atau tidak, kakaku tiba2 datang membawa 5 porsi bubur, tentulah pagi itu kami berlima memakan bubur.

Terus selanjutnya apa?

Telur iya telur itu, aku tanyakan pada ayah, mau dibekel buat ke sawah atau tidak. Dan ayahku bilang tidak, silahkan dimakan aja nanti, kurang lebih begitu diksinya..

Masya Allah.. cerita itu bukan sekedar aku bisa memakan kembali telur yg dinanti yaa heheh, tapi lebih dari itu bisakah kalian menangkapnya?

Iyahhh

Sesuatu kebaikan yg kita lakukan dengan ikhlas dijalan-Nya, Allah jamin dengan kebaikan lebih tinggi sesudahnya…Masya Allah..

Allah rezekikan aku sarapan sekaligus memakan telur yg didambakan…Masya Allah Maha lembut Ia mengajarkan sesuatu pada hamba-Nya, tinggal kita mau mengambil pelajarannya atau tidak, nah itulah yg dinamakan makna…

Sipp

Jadi jangan pernah ragu lagi yang untuk terus menyemai kebaikan, karena sejatinya apa yg kita tanam itulah yg kita tuai..satu bulir padi saat ditanam akan mengahasilkan berlipar bulir setelahnya..

Dan kmana kita dahulukan kebaikan

Sudah seharusnya kepada orang terdekat terlebih dahulu, orang tua kita saudar2 kita, tetangga kita, dan kemudian kaum muslim secara umumnya..

Bismillah luruskan niat maksimalkan ikhtiar..😊😊🐝🐝

Who am I

Pernah dihadapkan pada kondisi ini, disaat kamu memeprtanyakan dirimu siapa?

Pada masa ini kamu mungkin dihadapkan pada orang2 yg mempertanyakan dirimu, siapa kamu, memang kamu mampu, kamu sudah melakukan apa memangnya?

Dan dalam diri akan merasa juga, oh iya memang aku siapa? Sebelumnya aku sdah melakukan apa, kamu yakin kamu mampu?

Kondisi ini berat? menurutku iya, Karena mmbuat diri akhirnya menanyakan eksistensi dan manfaatmu diri sejauh ini dengan presfektif yg tk seharusnha, selentingan2 seperti aku spertinya memang ….. dan rasa tidak bersyukur lainnya semakin sering muncul…

Maka ketika seperti ini . STOP… untuk beberapa waktu kamu hrus berhenti, memikirkan dunia yg nampak tak adil ini, kembali kembali pada-Nya, karena barangkali apa yg kamu cari sebenrnya hanya luput tertutup gelpanya kabut. Kabut dunia yg membuatmu terlena.

Siapa kamu pada akhirnya akan terjawab hanya saat kamu kembali meresapi firman-Nya.

Karena bukan siapa kamu dihadapan mereka, tapi siapa kamu dihadapan-Nya… cukup jadi versi terbaik dirimu untuk-Nya.

Kebaikan sederhana yang mengangkasa

Kulihat digit angka pada gawaiku, pukul 06.30 waktu yg pas untuk berangkat ke stasiun. Sudah kusiapkan semua yg dibutuhkan, laptop tas dan tentu dompet…

Kuturuni tangga dari lantai tiga, sesampainya dibawah, tak sengaja kutemua ibu kost yg sdang berkunjung.. seketika teringat aku belum bayar listrik wkwkw…

Kukeluarkan selembar uang, kusampaikn maaf atas keterlambatan….akupun berlalu, sedikit tergesa karena meskipun rencana sdah tertata, apa yg ada dihadapan tak bisa diterka ,aku takut ketinggalan kereta…

Alhamdulillah, berjodoh, pas keluar gang kostan angkot tak jauh dihadapan..

Sepanjang jalan tak ku hiraukan…hingga hampir sampai tujuan kudapati uang kecil tak digenggaman..panik, nanti aku bayar gmna.. raut wajahku nampaknya terbaca, ibu didepanku menyadarinya,,

Secara tiba2 saat gesturku menandakan ku akan turun dari angkutan ibunya menawarkan” Neng kenapa? ketinggalan? Nggk ppa nanti ibu yang bayar nggk pp”.

Seketika do’a kebaikan untuk sang ibu terpanjat dri hati yg mengharu biru..

Akhirnya aku pun menjawab sesopan yg kubisa, terima kasih kuucap pertama, lalu kujelaskan bahwa bukan ketinggalan tpi hanya tkut tdk ada kembalian, memang tidak ada, tpi ada cara, kubeli sesuatu saat berhenti dan akhirnya bisa membayar angkutan yg ku tumpangi, sampai ku turun dari kendaraan aku msih merasa terharu dengan kebaikan sang ibu.

Kebaikan sederhana yg in syaa Allah mengangkasa… karena kita tak pernah tahu dari lisan mana do’a terbaik itu sampai pada-Nya, maka pastikan sekecil apapun peluang kebaikan maka lakukan dengan hati ikhlas penuh kehambaan…